Selasa, 20 Juli 2010

Ada Emas di Lembah Cibaliung - Pangalengan




Begitu menggoda ajakan mengikuti Tur Urat Emas Pangalengan pada medio April lalu. "Kita akan ke penambangan emas di Pangalengan," kata T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia. Wow! Jujur saja, selama tinggal di Bandung, baru kali ini saya mendengar ada tambang emas. Digarap liar pula. Perjalanan menantang segera terbayang.

Dengan mengendarai truk TNI, kami pun memulai--begitu nama kegiatan itu--dari depan taman Ganesha Institut Teknologi, Bandung. Peserta sebanyak 32 orang terdiri atas peneliti geografi dan geologi, guru geografi, wartawan, pekerja swasta, dan mahasiswa.

Saya memilih naik truk yang diisi para guru geografi dan peneliti dari Museum Geologi, dengan harapan bisa mendengar banyak kisah di sepanjang perjalanan.

Lokasi tambang emas itu berada di perbatasan Pangalengan, Kabupaten Bandung, dengan Kabupaten Garut, Jawa Barat. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Bandung ke arah selatan.
Menghindari kemungkinan macet di daerah Baleendah, sopir mengarahkan truk melewati Cimahi. Belum sejam sampai di daerah Nanjung, badan sudah terasa pegal-pegal. Maklum, sejak berangkat tulang punggung dan bokong terus beradu dengan kursi kayu panjang. Tak jarang penumpang harus duduk terlonjak-lonjak. Dalam kecepatan sedang, enam roda truk terasa benar sulit berkelit dari tebaran lubang jalanan.

Duduk di deretan paling belakang membuat mata leluasa melahap pemandangan sawah, pegunungan, sungai, yang diselingi permukiman penduduk. Perbukitan cadas, yang di bawahnya terdapat perkampungan, memanjang di sebelah kanan kami. Tebing di daerah Nanjung hingga Soreang, pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, itu, konon, dulu merupakan pematang yang membelah danau raksasa Bandung purba menjadi sisi timur dan barat. "Kita sekarang sedang melintasi pantainya," ujar Bachtiar, yang di sepanjang perjalanan saling bertukar cerita kocak dengan seisi truk.

Saya sulit membayangkan rupa danau itu dulu. Terbentang begitu luas hingga Padalarang di sisi barat Bandung, dasar danau itu adalah wilayah Kota Bandung sekarang. Dan bukti danau itu bak lautan kecil adalah pegunungan karst yang terbentuk dari karang danau. Menyembul karena proses pergerakan kulit bumi, batuan karst itu kini menjadi sumber nafkah pengusaha dan penambang batu kapur di daerah Citatah, Padalarang.

Matahari mulai menyengat ketika truk berkelak-kelok di jalan pegunungan, tanda bahwa kami sudah di daerah Pangalengan. Hawa sejuk khas pegunungan menyelusup. Di bawah sana tampak punggung perbukitan berlapis sayur-mayur.

Memasuki Situ Cileunca, kami terpesona oleh gumpalan asap putih tebal yang membubung dan menyatu dengan awan putih di langit. Truk berhenti di sisi danau buatan pemerintah Belanda untuk irigasi itu. Asap tersebut berasal dari pembangkit listrik tenaga uap di Pegunungan Wayang-Windu. Setelah menikmati dan mengambil gambar, sejumlah peserta perempuan sibuk mencari rumah penduduk untuk buang air kecil. Sebagian peserta laki-laki memilih mencari kebun kosong untuk urusan yang sama.

Perjalanan dilanjutkan. Di dekat Rumah Jerman, truk berhenti. Dari kejauhan, rumah tua itu berdiri sendiri di kaki bukit. Kolam besar melatari di bagian depan, dan perkebunan teh di sekitarnya.

Selepas gerbang Cukul Estate, truk kembali berhenti untuk mengangkut delapan guru geografi dari berbagai SMA untuk bergabung. Cukul Estate adalah perumahan bagi sekitar 100 keluarga petani teh. Memasuki perkebunan teh, jalan mulus segera lenyap. Batu-batu lancip memenuhi lebar jalan yang hanya cukup dilintasi satu mobil itu. Kecepatan truk menyurut.

Merayap tapi pasti, mesin diesel meraung-raung. Beberapa kali truk mengaso sejenak di jalur menanjak. Di sisi kiri dan kanan, bergantian lereng kebun teh menganga dengan kemiringan 30-45 derajat. Ketegangan tersemai.

Mulut seorang ibu guru terlihat sibuk berkomat-kamit membaca doa agar semuanya selamat. Dia menyarankan peserta berjalan kaki dari sini.

Truk ngotot ingin melibas medan. "Masak sopir tentara nyerah," seloroh penumpang.
Rupanya sopir punya ketegangan sendiri ketika beberapa kali memutuskan berhenti. Dia meminta seluruh penumpang duduk agar keseimbangan truk terjaga.

Sambil tetap berdoa, saya mengusir jauh-jauh bayangan bahwa truk bakal terguling. Horor itu akhirnya berlalu setelah 15 menit. Tiba di tanjakan yang berkelok patah 180 derajat, sopir akhirnya menyerah. Penumpang satu per satu turun. Dari tempat setinggi 1.464 meter dari permukaan laut itu, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki menyusuri perkebunan teh.

Menyusuri jalan setapak, peserta harus berjalan antre. Beberapa ada yang tergelincir karena jalan licin dan berair. Perjalanan menerabas hutan itu pun menghabiskan sekitar setengah jam.

Mendekati lembah Cibaliung, gemericik air Sungai Cibaliung terdengar sayup-sayup. Suaranya makin jelas ketika kami tiba di salah satu gua penambang. Jalan masuk gua yang di sekitarnya ditumbuhi semak belukar itu disangga pilar-pilar dan atap kayu. Di depan gua, serpihan bebatuan putih berserakan. Sisa material lainnya ditumpuk dan dinaungi terpal plastik. Untuk memasuki lorong sempit dan gelap itu, kami hanya bisa bergantian satu per satu sambil membungkukkan badan.

Begitu sampai di ujung lorong yang berjarak delapan meter, tiga penambang laki-laki tampak berada di dalam. Sebuah senter terikat pada kepala salah seorang penambang, yang berusia sekitar 20 tahun. Tak kuat berlama-lama di dalam gua yang pengap, saya memutuskan keluar dengan cara berjalan mundur setengah berjongkok. Dari gua itu, saya menyusul rombongan di depan yang sudah memasuki perkampungan penambang di bawah sana.

Bedeng-bedeng penambang yang dibangun dari kayu dan terpal plastik itu begitu kumuh, seperti kandang ternak. Berukuran enam meter persegi, naungan itu dibagi untuk kamar tidur, dapur, dan tempat kerja. Salah satunya dihuni Sarman, 23 tahun. Lelaki berkulit gelap itu mengaku sudah ada di sana sejak 2000. Menurut dia, di sini ada lebih dari 100 penambang yang hampir seluruhnya berasal dari Desa Mekar Mukti, Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, termasuk dirinya. Kampung itu sendiri terletak di balik lembah Sungai Cibaliung, berjarak, "Dua jam jalan (kaki)," katanya.
View Larger Map

Saat itu, dia sempat memperlihatkan hasil temuannya setelah menggali dua hari dua malam di sebuah lubang. Dari bungkus kain lusuh berwarna merah, dia mengeluarkan batu logam berwarna perak seukuran kelereng. Di dalam batu seberat 4 gram itu, katanya, ada emas. Setiap bulan, dia biasa mendapat 10-15 gram emas yang biasa ia jual ke toko perhiasan di daerah Banjaran, Bandung. Hasilnya dibawa pulang ke keluarganya saban 15 hari sekali. "Uangnya hanya cukup untuk makan," ujarnya.

Makmur, seorang peserta yang juga peneliti dari Museum Geologi Bandung mengatakan, dari batuan seberat 4 gram itu, paling hanya 30 persennya atau 1,2 gram yang menjadi emas. Sisanya adalah perak dan tembaga, yang sering dibuang begitu saja oleh penambang.

Pagi atau malam, para penambang mulai bekerja memahat batuan kuarsa yang keras di gua, lalu memasukkannya dalam karung. Tidak asal memahat, mereka mencari rekahan batuan di dinding gua. Rekahan seukuran garis tipis itulah, menurut Makmur, yang disebut urat emas. Rekahan itu adalah jalan bagi mineral, seperti emas, perak, dan tembaga, dari hasil kegiatan gunung api. Gunung itu sendiri diperkirakan telah mati.

Pecahan kuarsa selanjutnya diangkut ke bedeng. Batuan itu lalu ditumbuk dengan palu besi hingga hancur menjadi seukuran biji kacang. Butiran-butiran itu selanjutnya dimasukkan dalam gelundung, sebuah silinder dari besi seukuran galon air mineral yang diikat pada kayu. Gelundung yang diputar oleh arus sungai selama 12 jam menghasilkan butiran batu halus. Pengumpulan emas dalam butiran itu lantas diproses dengan kucuran air raksa alias merkuri.

Saya meninggalkan Sarman, yang masih ingin menuntaskan pekerjaannya memecah batu. Bergabung dengan peserta yang sudah membuka bekal makan siangnya, lokasi yang dipilih adalah sebuah batu besar di tengah sungai. Dari arah belakang, lamat-lamat terdengar lagu dari radio di salah satu bedeng di belakang kami. Dari mana listriknya? Penasaran, saya bergegas berkeliling kampung penambang setelah beres makan. Salah seorang penambang dengan gamblang menjelaskan asal listrik itu. Dia membawa saya ke tepi sungai lainnya yang berjarak sekitar 15 meter dari tempat kami makan siang.

Ternyata sumber listrik itu berasal dari tenaga air. Para penambang membuat turbin sederhana dengan bantuan dinamo dari mesin motor Honda CB. Dari situ, listrik mengalir hingga 250 watt, lalu dibagi untuk lima rumah. Daya sebesar itu, katanya, cukup untuk menyalakan lampu neon, alat-alat listrik bertenaga 15 watt, dan mengisi ulang baterai telepon seluler secara bergantian. Turbin itu, ujarnya, sudah dipasang dua tahun karena minyak tanah semakin susah. Untuk kebutuhan hidup sehari-hari, para penambang membeli beras dan lauk-pauk serta minyak goreng di warung perkampungan lain.

Dari obrolan dengan penambang lain, mereka mengaku penambangan yang mereka lakukan adalah liar. Tiap bulan, katanya, mereka kerap disambangi petugas pemerintah daerah Garut yang meminta mereka pergi. Berdalih tak ada pekerjaan lain, para penambang tak menggubris larangan itu sehingga petugas pun tak bisa berbuat lebih jauh. Sejauh ini, kata mereka, tak ada seorang penambang pun yang tewas karena kecelakaan kerja.

Setelah pamit meneruskan perjalanan, kami menaiki lembah untuk mencapai lokasi lain: Curug (air terjun) Cibaliung. Menyusuri jalan setapak yang licin, kami disambut penambang lain yang membangun bedeng di dekat curug. Untuk mencapai curug, kami harus melewati titian gelondongan kayu yang melintang licin di tengah sungai. Di bawahnya, gelundungan berputar cepat dihantam arus sungai. Perlu kehati-hatian tinggi di titian ini kalau tidak ingin terpeleset. Untungnya, tak ada satu pun peserta yang tercebur ke sungai.

Curug itu berada di celah sempit berketinggian sekitar 10 meter. Jarak antardinding yang mengapitnya sekitar tiga meter. Kami cukup menikmatinya dari jarak agak jauh dengan air dingin sungai yang merendam hingga sebatas pangkal paha orang dewasa. Saking senangnya, saya sampai lupa isi saku celana. Begitu sadar, buku catatan dan sebungkus rokok serta korek api basah terendam. Beruntung, kamera saku hanya basah sedikit tersiram embusan air terjun. Saya segera ke sisi sungai membungkus semua peralatan yang masih kering. Dari langit, rintik hujan mulai turun.

Hujan turun dengan lebat, kami pun berteduh di saung penambang. Peserta segera mengenakan ponco dan jas hujan. Saya memilih berbasah ria karena rindu bermain hujan. Didesak sore, kami meneruskan perjalanan di tengah hujan lebat dan cuaca dingin. Dari sini, rombongan terpecah menjadi dua. Kelompok pertama memilih kembali ke jalur kedatangan, sedangkan kelompok kedua, termasuk saya, memilih jalur terusan. Jalur ini, menurut penambang, lebih dekat dan cepat walau jalannya mendaki dan penuh bebatuan. Benar saja semua keterangan itu. Setelah semuanya berkumpul, truk membawa pulang kami secara hati-hati, menjaga kepuasan perjalanan itu yang tak luruh oleh hujan.


Sumber :
ANWAR SISWADI
http://www.tempointeraktif.com/hg/perjalanan/2009/08/02/brk,20090802-190260,id.html

2 Agustus 2009




Minggu, 24 Januari 2010

Pangalengan




Pangalengan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Pangalengan terletak di sebelah selatan Kota Bandung, dan terkenal akan beberapa objek wisata, seperti Situ Cileunca dan Kolam pemandian air panas Cibolang.

Pangalengan juga dikenal sebagai daerah pertanian, peternakan dan perkebunan. Terdapat beberapa perkebunan teh dan kina yang dikelola oleh PTPN. Pangalengan juga merupakan daerah penghasil susu sapi. Pengolahan susu di daerah Pangalengan dan daerah Bandung selatan lainnya dikelola oleh KPBS (Koperasi Peternak Bandung Selatan).


Kelurahan/desa :


Banjarsari

Lamajang 
Margaluyu
Margamekar
Margamukti
Margamulya
Pangalengan
Pulosari
Sukaluyu
Sukamanah
Tribaktimulya
Wanasuka
Warnasari


Catatan:

Kecamatan Pangalengan merupakan bagian dari Kabupaten Bandung, dengan luas wilayah 280, 59 km2, dengan jumlah penduduk 133 ribu jiwa,

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pangalengan,_Bandung


Sumber Gambar :

http://img.photobucket.com/albums/v679/fahrie/pangalengan.png



http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/0c/Locator_kabupaten_bandung.png
http://4.bp.blogspot.com/_W9pKSM2Y0UU/SZgwetjPlFI/AAAAAAAAAF4/kyrdwoDnOI8/s400/peta+KAB.+ABNDUNG.jpg

Peta Pangalengan


View Larger Map

Berpetualang di Situ Cileunca


Bagi yang gemar beroffroad bisa mengeliling situ untuk dapat mencapai kebun straoberi.


Suara mesin dari perahu tidak mampu mengalahkan suara desiran angin dan gelombang air di Situ Cileunca, Desa Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Desiran angin itu semakin kuat menyibak rambut saat perahu terus melaju tanpa henti. Mata pun tak pernah letih memandang gelombang air, gunung-gunung, yang berada di sekitar Situ Cileunca.

Situ yang sering dibanjiri pengunjung itu mulanya merupakan hutan belantara. Pada 1918, sebagian kawasan hutan di sana dibuat situ untuk kebutuhan pengairan daerah di sekitarnya. Situ berkedalaman 17 meter ini warnanya begitu bening, sehingga enak dipandangi.

Udara di Situ Cileunca yang mempunyai luas permukaan air 1.400 hektare ini sangat dingin. Karenanya, banyak wisatawan yang mendatangi tempat ini untuk camping. Kebetulan, pengelola objek wisata ini, menyediakan arena camping round.

Menurut petugas Situ Cileunca, Hendri Solehudin, wisatawan yang camping di Situ Cileunca banyak sekali. ''Makanya, tempat ini sering dijadikan acara untuk pelatihan tentang lingkungan atau opspek mahasiswa,'' katanya menjelaskan.

Situ Cileunca, menawarkan banyak objek wisata. Selain bisa menikmati keindahan situ dan iklimnya yang segar, pengunjung juga bisa mendatangi kebun strawberry dan kebun arbei. Untuk mencapai lokasi kebun tersebut, pengunjung harus menggunakan perahu dengan waktu tempuh sekitar 10-15 menit. Harga sewa perahu relatif murah yaitu Rp 5.000 per orang. Kita pun bebas memilih apakah perahu motor atau dayung.

Sebenarnya, kita bisa menggunakan jalur alternatif lain untuk sampai ke kebun strawberry. Jalur yang bisa digunakan lewat darat dengan mengelilingi situ. Namun, jalan di sekitaran situ kondisinya kurang bagus sehingga agak sulit untuk dilalui oleh kendaraan biasa. Namun, bagi yang suka offroad dan mempunyai kendaraan jenis Land Cruiser, tidak ada salahnya untuk mencobanya mengelilingi situ dengan medan yang sangat menantang.

Perjalanan lewat air ke kebun strawberry hanya membutuhkan waktu 10-15 menit. Selama perjalanan tersebut, kita bisa melihat indahnya pemandangan Gunung Wayang, Malabar, dan Windu. Kita juga disuguhi pemandangan hutan hasil peninggalan pembuatan situ.

Namun sesampainya di pinggir situ, kita belum bisa langsung memetik strawberry. Harus terlebih dulu berjalan menapaki jalan setapak yang berada di samping hutan. Dengan petunjuk seadanya, pengunjung seolah dibiarkan mencari tujuannya sendiri. Meskipun, jika kebingungan, pengunjung bisa meminta tolong kepada tukang perahu.

Setelah berjalan sekitar 15 menit dengan medan yang menanjak, kita baru menemukan kebun strawberry. Di areal kebun ini, pengunjung dapat memetik jenis buah ini sepuasnya. Di kebun ini 1 kg strawberry dihargai Rp 30 ribu. Selain strawberry, di atas tanah seluas 70 tumbak ini juga tersedia buah melosa yang oleh banyak masyarakat dipercaya sebagai obat penyakit darah tinggi dan penderita liver. Harga melosa yang berbentuk lonjong berwarna hijau ini Rp 15 ribu per kg.

Melosa, terbilang unik. Karena, buah yang rasanya mirip melon itu hanya dibudidayakan di Dieng, Jawa Tengah, dan Eropa. Pengelola kebun, Amin (54 tahun), dengan senang hati melayani puluhan pembelinya untuk menjelaskan manfaat dari buah melosa.

''Kebun strawberry itu juga menjadi tujuan utama di Situ Cileunca,'' katanya sambil melayani pembeli. Jika hari libur, keuntungannya bisa mencapai Rp 400 ribu per hari, tentu dari hasil penjualan kedua jenis buah tersebut.

Jika sudah bosan di kebun strawberry, kita bisa melanjutkan perjalanan ke kebun arbei yang hanya berjarak beberapa meter dari strawberry. Dengan hanya membayar Rp 2.500, pengunjung bisa memakan arbei sepuasnya. Arbei dengan rasa yang relatif enak, telah mengundang ribuan penggemarnya ke kabun ini.

Bagi pengunjung yang hobi memancing, Situ Cileunca juga bisa menjadi lokasi pilihan. Di situ ini terdapat berbagai jenis ikan, di antaranya ikan mas, golsom, nila, dan sejumlah ikan hias. Untuk memancing di situ ini, pengunjung tidak dipungut bayaran.

Dengan berbagai fasilitas yang tersedia, tampaknya Situ Cileunca, cocok untuk lokasi liburan bersama keluarga. Karena situ ini juga dilengkapi dengan arena bermain anak-anak. Bagi pengunjung yang ingin menginap, pengelola menyediakan bungalow yang terdiri dari dua bungalow besar dan satu kecil. Untuk bungalow besar, pengunjung harus membayar Rp 250 ribu per malam, sedangkan bungalow kecil Rp 150 ribu per malam.

Namun jika ingin merasa lebih nyaman, Anda bisa menyewa vila yang tersedia di dekat situ. Beberapa vila milik penduduk setempat dapat disewa dengan harga yang relatif murah. Selain berwisata, di tempat ini, pengunjung bisa belajar cara pergerakkan turbin untuk PLTA.



Lebih Asyik Naik Bus

Situ Cileunca kini merupakan salah satu alternatif tujuan wisata yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Bandung. Karena itu pemerintah setempat menyediakaan bus yang melewati kawasan tersebut. Jika berangkat dari Bandung, kita bisa menggunakan bus jurusan Pandegelang dengan waktu tempuh sekitar 2-2,5 jam. Sementara untuk masuk ke lokasi wisata, kita harus mengeluarkan uang Rp 2.500 per orang, Rp 3.000 untuk mobil, Rp 1.500 untuk motor, dan Rp 5.000 untuk bus.

Ikhtisar
*Untuk bisa ke Situ Cileunca, pengunjung bisa naik bus dari Bandung jurusan Pendegelang dengan waktu tempuh 2-2,5 jam.
*Masuk ke kawasan situ harus membayar Rp 2.500 per orang.
*Ke kebun strawberry, pengunjung harus menyeberang situ menggunakan perahu dengan tarif Rp 5.000 per orang.

(ren )


Sumber :

Republika, 19 Maret 2006

Sumber Gambar:

http://pictures.maleber.net/img/1235708289_DSC_7887.JPG

Perkebunan Malabar, Pangalengan


Perkebunan Teh Malabar dibangun pada tahun 1890 di ketinggian 1550 m di atas permukaan laut. Lokasinya berada 45 km di selatan Bandung dengan hawa sedang 16 sampai 26 oC. Perkebunan ini diberkahi dengan pemandangan yang indah dari hamparan pegunungan yang diliputi oleh tanaman teh yang menghijau. Teh dari perkebunan ini sudah lama dikenal orang di dunia. Selain pabrik teh, wisatawan juga dapat menyaksikan peninggalan sejarah kebun Malabar berupa rumah dan makam pendiri kebun ini, K.A.R Boscha.
Apa yang bisa dilihat

Pemandangan alam yang diliputi hamparan kebun teh yang menghijau, sementara di sela-selanya para pemetik teh tengah bekerja dengan gembira

Wisma Malabar, didirikan pada tahun 1894 mulanya sebagai kantor dan kediaman KAR Boscha

Wisma Melati, didirikan pada tahun 1908, mulanya merupakan kediaman deputi manajer pertama Malabar, kini dikelola sebagai penginapan bagi wisatawan

Perumahan para pekerja perkebunan, dengan gaya khas arsitektur Sunda, pertama dibangun tahun 1890

Makam Boscha yang dinaungi oleh pepohonan di sebuah hutan kecil. Tempat ini dahulu merupakan tempat ia beristirahat setelah lelah menginspeksi kebun-kebun teh

Gunung Nini, walaupun hanya sebuah bukit, banyak dikunjungi para wisatawan untuk menikmati pemandangan yang menakjubkan dari pegunungan yang melingkungi Malabar, Situ Cileunca, dan matahari terbit di antara Gunung Wayang dan Windu.

Pabrik Teh Tanara yang didirikan tahun 1905 dan kini dikenal sebagai Pabrik Teh Malabar terus memproduksi teh dataran tinggi yang berkualitas baik dan terkenal di dunia. Pabrik yang kini berdiri merupakan pengganti dari pabrik pertama yang hancur pada Perang Dunia II.

Kebun bibit pada awalnya di tahun 1896 ditanami bibit Teh Assam. Melalui budidaya, bibit-bibit teh dari pohon-pohon teh setinggi 7 meter ini dikembangkan di sejumlah lahan perbibitan di beberapa tempat.

Tamu khusus pabrik dapat menikmati pemandian air panas alami Tirta Camelia.

Air terjun Cilaki dan pembangkit listrik tenaga air yang didirikan atas perintah KAR Boscha dan sampai kini menjadi penyedia energi listrik bagi pabrik teh dan perumahan karyawan.

Sekolah pertama yang pada tahun 1913 dibangun berlokasi di kebun teh Ciemas menjadi sarana pendidikan bagi putra-putri karyawan perkebunan
KAR Boscha

Karel Albert Rudolf Boscha lahir di S'Gravenhage, Belanda. Ia tiba di Indonesia pada tahun 1887 dan mempelajari budidaya teh di Sinagar Sukabumi, Jawa Barat.

Tahun 1896, ia diangkat menjadi manajer perkebunan Teh Malabar sampai ia wafat pada tahun 1928.

Boscha tidak hanya dikenal di dunia budidaya teh. Ia banyak menyumbangkan pikiran, tenaga, dan dana bagi kepentingan-kepentingan sosial dan pembangunan kota Bandung, seperti Observatorium Bintang Boscha di Lembang, Bala Keselamatan di Jl. Jawa, sekolah bagi penyandang tuna rungu dan tuna wicara, Telefoon Maatschappij voor Bandung en Preanger di Jl Tegallega (kini PT INTI), serta kompleks Nederlands-Indische Jaarbeurs (Pekan Raya) yang kini menjadi kantor Kologdam.

Ia menjadi ketua Biro Spesialis Teh (tahun 1910) dan ketua Pertanian Percobaan (tahun 1917) dan anggota dewan penyantun untuk Tehnische Hogerschool (kini ITB) sampai tahun 1928. Ia pula yang mendirikan Institut Kanker dan yang pertama memperkenalkan satuan hektar dan kilometer untuk menggantikan satuan tradisional pal dan bahu. Atas jasa-jasanya, ia diangkat sebagai warga kehormatan kota Bandung dan kini namanya diabadikan pula sebagai nama sebuah jalan di utara Bandung.


Sumber :

http://database.deptan.go.id/agrowisata/viewartikel.asp?id=6


Sumber Gambar:

http://irfanchemist.wordpress.com/2009/04/14/pangalengan/

Petani Pangalengan Keluhkan Harga Sayur Mayur

Para petani sayur mayur di Pangalengan mengeluhkan harga sayur mayur yang belum berpihak kepada mereka. Penjualan sayur mayur hanya cukup menutupi biaya produksi malah kadang harus nombok.

Menurut tokoh petani Pangalengan, H. Usep, harga sayur mayur saat ini seperti tomat sekitar Rp 2.000,00/Kg. "Sedangkan biaya produksi tomat ya sekitar Rp 2.000,00 sehingga pas-pasan. Para petani sekedar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan," katanya.

Sedangkan harga kubis (kol) sekarang ini rata-rata Rp 500,00, dan biaya produksi sekitar Rp 900,00/Kg. "Kalau sedang panen raya atau ada serbuan sayur mayur dari daerah-daerah lain otomatis harga sayur jatuh hingga petani rugin" ungkapnya.

Untuk harga kentang, kata Usep, masih berkisar Rp 4.000,00 per kg, namun saat ini Pangalengan sedang tidak musim tanam kentang. "Para petani membutuhkan pengetahuan pasar sehingga tidak terjadi tanam serentak yang berdampak kepada kejatuhan harga sayuran," ucapnya.(A-71/kur)***

Sumber :

http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=115575

12 Desember 2009

Arung Jeram Pangalengan

Sungai Palayangan – Pangalengan, adalah salah satu sungai yang menjadi pilihan terbaik kegiatan arung jeram di Bandung . Debit air yang stabil sepanjang tahun, pemandangan yang indah serta air sungai yang jernih menjadi nilai tambah sungai Palayangan ini. Terletak 45 km di selatan Bandung , tepatnya di kota Pangalengan yang terkenal sebagai daerah penghasil susu dan sayuran. Titik start kegiatan arung jeram berada di lokasi wisata Situ Cileunca, pada ketinggian 1200 m dpl dengan suhu antara 18-26 derajat C. Situ Cileunca merupakan danau buatan dengan luas lebih dari 14.000 m2, dikelilingi oleh hutan pinus perkebunan teh serta kebun sayuran yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Pada kondisi normal, debit air adalah 2 m3 perdetik, sedang pada musim hujan dengan volume air yang melimpah debit air dapat mencapai lebih dari 4 m3 per detik.

Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan tingkat kesulitan Class III – IV (pada skala I – IV), lebar sungai yang hanya berkisar 3-4 m dengan lintasan pengarungan sepanjang 6 km dan gradien 30-60 derajat menjadikan arus sungai cukup deras. Kegiatan arung jeram di Sungai Palayangan mampu meberikan tantangan yang menjanjikan bagi para pecinta arung jeram.


Jalannya Pengarungan

Pengarungan yang telah direncanakan bertaon-taon akhirnya terwujud juga..Tanggal 4 Mei 2008, bertepatan dengan selesainya kegiatan outbound yang diprakarsai oleh Anton, Seno, GDZ, Komeng yang diadakan di tepi Situ_Cileunca. Setelah selesai semua kegiatan outbound, pukul 3 tet, diawali dengan stretching (untuk melemaskan otot-otot yang sudah 36 taon tidak megang dayung…kata om clg), kemudian menyusun team pengarungan, perahu 1 diisi oleh Anton, GDZ, Komeng, Copet, Fitri dengan formasi 2-2-1. Sedangkan perahu 2 diawaki oleh Coro , Clg, Seno, Joko (Unpad), Boy (Gegama) dengan menggunakan formasi yang sama, yaitu 2-2-1.

Start dimulai dari outlet situ..begitu melihat sungai..(yang diwakili oleh jeram selamat datang)..Cuma satu kalimat yang muncul dari mulut om clg “koq medeni….???”, ternyata dia tertipu, katanya sungainya fun, ternyata……, tapi dia gak punya cukup nyali untuk balik kanan (pulang red..). So…dimulailah pengarungan dimana kita tidak dikasih banyak waktu oleh sungai untuk bersimulasi menyegarkan teori yang telah tertutup memori, bagaimana tidak, lokasi start hanya berupa dermaga yang berjarak 2 meter dari jeram selamat datang..dan jreeeng…selamat datang pun sukses dilewati oleh perahu 1 dan 2. Jeram selanjutnya adalah …. (sori aku lali jenenge..). Yang jelas jeram ini punya nama baru, yaitu jeram komeng…hehehe (komeng njungkel soale..), jeram ini punya drop hole kurang lebih 1,5 m..na si komeng ini kurang mengantisipasi kondisi perahu yang agak kempes, jadi pas nglewati drop hole tsb, sukseslah komeng mencelat… Jeram ke-3 adalah jeram domba (pernah ada domba kecemplung truz ga keliatan batang idungnya lagi sampe sekarang…), lagi-lagi drop hole bikin masalah, cukup tinggi juga seh sampe komeng mencelat lagi, kali ini ga ke air, tapi nubruk bojoku (meh nesu janne…hehehe, gojek meng). Nah..sekarang giliran mascot pangalengan harus kita hadapi, jeram kecapi..pas nengok ke perahu sebelah, muka om clg putih kayak ga ada darah..Tapi bener kok, jeram ini cukup bikin jiper..bahkan seorang skipper sekaliber komeng jadi ciut nyalinya..

Jeram ini punya karakteristik cukup unik, dengan panjang sekitar 200 meteran dengan gradient cukup curam (para rencue darat yang nunggu di ending jeram kecapi keliatan keciiil), dihiasi drop hole yang bervariasi ketinggiannya (1,5-2,5 m) serta jalur yang cukup sempit (ngepres bgt satu perahu), maka cukup layak jeram ini dikategorikan masuk grade IV..Perahu 1 sukses melewati kecapi, yang kemudian standby dengan rescue kit untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan..Pas ketika perahu 2 melewati kecapi, tepatnya di drop hole terakhir, apes buat om clg…buggg…, entah sengaja entah tidak ujung dayung coro tepat menghantam matanya, sukseslah matanya om clg jadi bengkak + biru lebam, tapi malah anton yang sueneeng buanget liat kejadian itu, kayak dapet durian runtuh dia (keto’e ada gendam pribadi kie…). Setelah jeram kecapi, jeram-jeram selanjutnya cenderung lebih mudah dilewati (III kebawah) dan cocok buat nge-fun lah, yang jelas pengarungan ini cukup membekas bagi om clg (dihati sama dimatanya he..he..)


Sumber :

http://mapalasttl.org/index.php?option=com_content&task=view&id=64&Itemid=36

10 Mei 2008